French Fries vs Belgian Fries, Mana yang Benar?

Glomart.id: Layakkah French Fries disebut Belgian Fries? Ternyata, perdebatan kentang goreng Beliga dan Prancis bukan terletak pada rasa dan bentuk, melainkan penamaan. Cikal bakal perdebatan ini berbuntut panjang. Perlu membuka buku sejarah untuk membahasnya. Jadi tunggu apa lagi? Simak ulasan yang diambil dari berbagai sumber berikut ini.

Pamor Belgia di segi makanan cukup tinggi lantaran berbagai makanan khasnya yang menggugah selera dan beraneka ragam, mulai dari moules frites, hingga cokelat dan wafel. Namun, ada satu jenis makanan khas yang menimbulkan hingar-bingar, yakni kentang goreng. Meski disebut French Fries, beberapa klaim menyebutkan kalau kentang goreng lezat ini sebenarnya merupakan kreasi Belgia.

Dilansir dari BBC, kisah zaman dahulu menyebutkan bahwa kentang goreng lahir di Namur (kota yang masyarakatnya menggunakan bahasa Prancis), Belgia, di mana penduduk lokal dominan mengonsumsi ikan goreng. Saat sungai setempat membeku selama satu musim dingin pada abad ke-16 akhir, alih-alih mengonsumsi ikan, masyarakat setempat memakan kentang goreng sebagai pengganti. Sehingga, lahirlah makanan lezat tersebut.

Bukan hanya itu alasan mengapa penamaan French Fries banyak dicekal masyarakat Belgia. Kesalahpahaman yang terjadi saat Perang Dunia Pertama ketika tentara Amerika pertama kali merasakan kelezatan kentang goreng di Belgia. Sayangnya, para tentara mengira mereka sedang berada di Prancis sebab masyarakat lokal menggunakan bahasa Prancis, sehingga mereka menyebutnya French Fries.

French Fries, entah milik Prancis atau bukan, punya tempat spesial dalam budaya Belgia. Negara yang terletak di Eropa Barat ini memiliki sederet toko yang menjual berbagai bentuk dan rasa kentang goreng, dikenal istilah Friekot dalam bahasa Belanda. Toko-toko yang menjual kentang goreng itu tersebar di seluruh negeri.

Tidak tanggung-tanggung, Belgia memiliki lebih dari 4.000 tenant kentang goreng pada 2016. Itu berarti Anda dapat menemukannya di setiap kabupaten sampai kecamatan. Lebih dari 50% penduduk setempat mengonsumsinya minimal empat kali dalam satu bulan.

Dilansir dari National Geographic, masyarakat Belgia bahkan telah mengajukan petisi kepada UNESCO untuk menempatkan kentang goreng sebagai ikon resmi warisan budaya Belgia. Tidak hanya makan lebih banyak kentang goreng daripada orang Prancis, mereka menempati peringkat satu perolehan per kapita dari penjualan kentang goreng.

Kentang goreng Belgia, sering dikenal sebagai Belgian Fries, berbeda dari kentang goreng biasa. Kulitnya  renyah dan teksturnya lembek di bagian dalam. Faktanya, Belgia secara geografis merupakan tempat yang sempurna untuk menanam dan memanen kentang. Itu menjadi rahasia keunggulan kentang goreng Belgia.

Berdasarkan cara pembuatan, Belgian Fries bergantung pada kualitas kentang dan dan suhu sebelum dimasak. Kentang tidak boleh dibekukan atau terlalu lunak sebelum digoreng, agar keseimbangan kerenyahan dan kelezatannya sempurna.

Belgian Fries juga tidak lebih tebal dari satu sentimeter (0,4 inci), dan digoreng dua kali. Bahkan, kentang dipersiapkan dari minyak khusus yang terbuat dari campuran lemak pilihan. 

Kentang goreng sangat dijunjung tinggi di negara ini. Terbukti, mereka bahkan memiliki museum sendiri bernama Frietmuseum. Museum tersebut menyediakan semua informasi tentang sejarah kentang goreng Belgia, serta berbagai resep yang dapat dicoba oleh pengunjung.

Jika Anda penasaran dan ingin mencoba kentang khas Belgia, Anda tidak perlu jauh-jauh pergi ke sana lalu menghabiskan banyak uang di perjalanan. Sebab, terdapat lima eksportir Belgian Fries terbesar di Indonesia, dan Glomart.id menjual salah satunya yakni Mydibel.  

Sementara di sisi Prancis, popularitas kentang di Prancis berawal dari jasa perwira medis tentara Prancis bernama Antoine-Augustine Parmentier, yang sukses menggaungkan kelezatan kentang goreng di Eropa. Selama Seven Years War di pertengahan abad ke-17, Parmentier ditawan oleh musuh dan kerap di beri makan kentang.

Saat itu, orang Prancis sebelumnya hanya menggunakan kentang untuk pakan babi dan tidak pernah memakannya. Pasalnya, mereka mengira kentang menyebabkan berbagai penyakit. Bahkan, pada pertengahan abad ke-17, Parlemen Prancis bahkan melarang budidaya kentang karena diyakini kentang menyebabkan penyakit kusta

Berbeda dengan Parlemen Prancis, Parmentier terpaksa memakan kentang dan kemudian menguak fakta bahwa persepsi orang Prancis soal tentang kentang tidaklah benar. Setelah kembali ke Prancis, ia menekuni profesi sebagai ahli farmasi. Parmentier terus memperjuangkan keyakinannya bahwa kentang tidaklah berbahaya, dan pada akhirnya perjuangannya berhasil mempopulerkan kentang menjelang akhir abad ke-17.

Orang Prancis menemukan dan belajar membuat kentang goreng selama periode tersebut. Camilan lezat yang disukai banyak orang itu menjadi fenomenal khususnya di Paris, di mana mereka dijual oleh penjual kereta dorong di jalanan dan disebut sebagai frites.

Terlepas dari berbagai cerita sejarahnya, kentang goreng saat ini menjadi camilan favorit masyarakat di seluruh dunia. Keanekaragaman variasi kentang goreng semakin berkembang seiring dengan berjalannya waktu.

glomart90

all author posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are makes.